Bekasi – Sempat Viral Sekarang Popularitas Bukit Hyundai di Bekasi, Jawa Barat, kini mulai meredup. Padahal, beberapa waktu lalu tempat ini sempat viral di media sosial karena pemandangannya yang indah dan suasananya yang menenangkan. Namun, kondisi terkini di lapangan menunjukkan hal berbeda: kawasan wisata ini tampak sepi pengunjung, bahkan di akhir pekan yang biasanya ramai.
Bukit Hyundai — yang terletak di Kawasan Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi — dulu dikenal sebagai spot favorit untuk menikmati panorama kota dari ketinggian. Banyak pengunjung yang datang hanya untuk berfoto, bersantai di sore hari, atau sekadar menikmati angin sejuk di atas bukit bekas proyek industri tersebut.

Baca Juga : Beli Jetour di Diler Bekasi Gratis Tablet Senilai Rp10 Juta
Namun kini, jalan menuju lokasi tampak lengang. Hanya sesekali terlihat kendaraan datang, dan sebagian besar area parkir kosong. Para pedagang kaki lima yang dulu berjejer di sekitar pintu masuk pun banyak yang memilih menutup lapaknya karena sepinya pembeli.
Dari Tempat Hits ke Lokasi Sunyi
Beberapa tahun lalu, Bukit Hyundai ramai diperbincangkan setelah sejumlah pengguna TikTok dan Instagram mengunggah video pemandangan sore dari bukit itu. Suasana matahari terbenam yang berpadu dengan siluet pabrik di kejauhan menciptakan nuansa unik yang jarang ditemui di wilayah industri seperti Bekasi.
“Dulu kalau sore bisa ramai banget, sampai susah cari tempat duduk. Sekarang malah kayak tempat kosong, sepi banget,” ujar Rizky (26), warga Cikarang Selatan yang sudah lama jadi pengunjung tetap Bukit Hyundai.
Menurutnya, sejak akhir 2023 lalu, jumlah pengunjung memang mulai menurun drastis. Banyak faktor yang diduga menyebabkan hal itu, mulai dari akses jalan yang rusak, kebersihan yang menurun, hingga pengelolaan yang tidak teratur.
“Sekarang sampah banyak, lampu penerangan juga jarang nyala malam hari. Orang jadi malas datang,” tambahnya.
Pedagang Merugi, Ekonomi Sekitar Ikut Lesu
Sepinya pengunjung ternyata ikut berdampak pada nasib para pedagang yang biasa mengais rezeki di sekitar kawasan tersebut. Dulu, setiap akhir pekan bisa ditemukan puluhan warung tenda dan penjual minuman ringan. Kini, hanya tinggal segelintir yang bertahan.
“Kalau dulu bisa dapat penghasilan Rp500 ribu sampai Rp1 juta per hari. Sekarang paling laku cuma Rp100 ribu. Itu pun kalau ada pengunjung lewat,” keluh Siti Nurhayati (41), pedagang mie instan dan kopi di sekitar area bukit.
Sebagian pedagang bahkan memilih pindah ke lokasi lain seperti Danau Cikarang Baru atau kawasan Go! Wet Waterpark, yang masih memiliki jumlah wisatawan lebih stabil.
Kondisi Lokasi Mulai Memprihatinkan
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi Bukit Hyundai saat ini memang cukup memprihatinkan. Banyak bagian area yang rusak, jalanan berbatu dan berlubang, serta tidak adanya fasilitas umum yang memadai seperti tempat sampah, toilet, atau bangku untuk bersantai.
Selain itu, rumput liar mulai tumbuh tinggi, dan beberapa spot foto yang dulu sering dipakai pengunjung kini tampak terbengkalai. Tak sedikit pengunjung yang mengeluhkan kondisi tersebut melalui media sosial.
“Padahal dulu bagus banget buat healing. Sekarang sih kayak nggak keurus. Sayang banget,” tulis salah satu netizen di kolom komentar akun Instagram wisata Bekasi.
Beberapa pengunjung juga menyebut bahwa sejak viral, banyak orang datang tanpa menjaga kebersihan. Akibatnya, tumpukan sampah menumpuk di berbagai sudut bukit dan merusak pemandangan.
Kurangnya Pengelolaan Resmi dan Akses yang Terbatas
Salah satu penyebab utama menurunnya popularitas Bukit Hyundai adalah tidak adanya pengelolaan resmi. Hingga kini, kawasan tersebut belum ditetapkan sebagai destinasi wisata oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta.
Artinya, tidak ada pihak yang secara rutin merawat, membersihkan, atau mengawasi aktivitas di sana. Situasi ini membuat tempat tersebut rentan rusak, kotor, dan tidak aman bagi pengunjung, terutama pada malam hari.
“Kami tidak bisa intervensi karena itu bukan kawasan wisata resmi. Tapi kami sedang berkoordinasi dengan pihak pengembang dan pemilik lahan agar area tersebut bisa dikelola dengan lebih baik,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bekasi, Taufik Hidayat, saat dikonfirmasi Jumat (8/11).
Selain itu, akses jalan menuju Bukit Hyundai juga menjadi kendala tersendiri. Jalur menanjak yang sempit dan kondisi jalan berbatu sering dikeluhkan pengendara motor maupun mobil. Pada musim hujan, jalan bahkan menjadi licin dan berbahaya.
Upaya Revitalisasi dan Harapan Warga
Meski kondisinya kini memprihatinkan, masih banyak warga Bekasi yang berharap Bukit Hyundai bisa dibenahi dan dihidupkan kembali. Beberapa komunitas lokal bahkan sudah mengusulkan agar kawasan tersebut dijadikan taman terbuka publik atau spot wisata alam gratis yang lebih tertata.
“Tempatnya sebenarnya potensial banget. Kalau dibersihkan, dikasih penerangan, dan ada penjaga keamanan, pasti ramai lagi. Orang Bekasi juga butuh ruang hijau seperti ini,” ujar Doni Santoso (33), pegiat komunitas lingkungan Cikarang Hijau.
Pemerintah daerah disebut sudah menerima sejumlah usulan revitalisasi, namun hingga kini belum ada keputusan konkret. Beberapa investor swasta dikabarkan tertarik mengembangkan kawasan tersebut menjadi kawasan wisata keluarga dengan konsep “bukit panorama” lengkap dengan kafe dan area rekreasi.
Fenomena Wisata Viral yang Tak Tahan Lama
Fenomena Bukit Hyundai yang kini sepi bukan kasus tunggal. Beberapa tempat wisata yang sebelumnya viral di media sosial juga mengalami nasib serupa: ramai sesaat, lalu perlahan ditinggalkan.
Ahli komunikasi digital, Dr. Mira Suryani dari Universitas Gunadarma, menjelaskan bahwa tren wisata viral biasanya hanya bertahan sementara jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik.






