Bekasi – Sahroni Tanggapi Belakangan, media sosial digemparkan oleh seruan sebagian netizen yang menuntut pembubaran DPR RI.
Desakan ini mencuat pasca ramai kritik mengenai besarnya tunjangan dan gaji anggota legislatif.
Dalam suasana tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, angkat suara.
Sahroni menanggapi pernyataan “bubarkan DPR” dengan kata-kata tajam.
Ia menilai orang yang mengajukan wacana tersebut adalah “orang tolol sedunia.”
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Polda Sumatera Utara, Jumat, 22 Agustus 2025.
Dalam video yang viral, Sahroni menyatakan: “Orang yang cuma mental bilang bubarin DPR, itu adalah orang tolol sedunia.”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4171786/original/034567100_1664197873-IMG_20220926_150629.jpg)
Baca Juga : Jasa Marga Lakukan Pemeliharaan Jalan di Tol Jakarta–Cikampek Mulai 23 Agustus
Ia menegaskan, kritik boleh disampaikan dengan bebas—even dengan makian—tapi tetap ada etika yang harus dijaga.
“Kita boleh dikritik, mau bilang anjing, babi, bangsat, mampus-mampus juga nggak apa-apa.” kata Sahroni, namun memperingatkan agar tidak berlebihan.
Menurut Sahroni, penyampaian ekstrem seperti tuntutan pembubaran DPR justru merusak mental anggota legislatif.
Ia juga menyatakan bahwa DPR memegang fungsi krusial: legislasi, pengawasan, dan representasi rakyat—fungsi yang tidak bisa diabaikan.
“Tanpa DPR, negara ini tidak akan jalan,” ujar Sahroni menegaskan peran vital lembaga legislatif.
Sahroni menyindir bahwa mereka yang mendesak pembubaran DPR adalah orang-orang yang tidak pernah merasakan menjadi anggota.
Ia menyampaikan bahwa anggota DPR terbuka terhadap kritik—bahkan hinaan—selama tidak melewati batas dan tetap membangun.
Tak hanya itu, cara kritik juga menjadi sorotan: Sahroni menegaskan pentingnya tata krama saat menyampaikan aspirasi
Respons Sahroni mendapat sorotan luas karena terkesan kasar dan tidak dewasa bagi seorang pejabat.
Namun ada juga yang mendukung bahwa kritik boleh keras, asal konstruktif—bukan merongrong institusi.
ini Ia menyebut, banyak anggota dewan yang berkontribusi secara senyap tanpa sorotan media—namun hasilnya dirasakan langsung masyarakat.
Meski begitu, Sahroni menekankan sekali lagi: kritik boleh diberikan, tapi hindari destruktif dan membenci lembaga negara.






